Tumbuhkan Budaya Literasi Dispersip Kalsel Lakukan Berbagai Inovasi

  • Bagikan
tumbuhkan-budaya-literasi-dispersip-kalsel-lakukan-berbagai-inovasi

blank
Liputan4.com, Banjar-Memberikan layanan kepada pemustaka untuk peningkatan kegemaran membaca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan (Kalsel) menyerahkan pinjam pakai buku Perpustakaan di desa Malintang Gambut Kabupaten Banjar.

Penyerahan buku dilakukan oleh Husnul Khatimah dan beberapa staf yang mewakili Kepala Dispersip Kalsel, Senin (22/2).

Kepala  Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi kalimantan Selatan  Dra Hj. Nurliani Dardie M.AP mengatakan pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kegiatan program promosi minat baca, salah satunya adalah mendekatkan buku ke tengah masyarakat.

“Dengan adanya pinjam pakai buku, ini merupakan wujud nyata perhatian Pemprov Kalsel dan juga merupakan terobosan Dispersip Kalsel untuk lebih mendekatkan buku ke tengah masyarakat,” katanya.

“selama 3 Bulan kemudian buku yang kami pinjam kan nanti akan dilakukan pertukaran buku dengan judul yang berbeda, sehingga variatif buku bacaan akan lebih dinikmati oleh pemustaka yang dikunjungi unit keliling ini,” tuturnya.

Ia berharap, semoga dapat menunjang peningkatan minat membaca dikalangan pelajar bahkan hingga masyarakat umum khususnya di desa Malintang Gambut Kabupaten Banjar.

Sementara itu Pembakal desa Malintang Gambut H.Hamidan Noor S.ag, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas apresiasi Perpuspalnam, pada hari ini membantu kami memberikan bantuan buku dengan sistem peminjaman secara bergilir” ujarnya.

“Ia bersyukur dan berharap kegiatan bantuan buku ini secara rolling dari perpustakaaan daerah ini harus terus – menerus karna pasti bukunya akan berganti – ganti kan, dan tidak menutup kemungkinan teman – teman juga membaca, meminjam dan bisa menambah wawasan kami”, tambahnya.

Hal senada dikatakan Babinsa desa Malintang Gambut Peltu Syamsudinoor menambahkan, atas persetujuan pinjam pakai buku, tentunya akan lebih memotivasi meningkatkan minat baca dan mensukseskan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Bunda Nunung mengungkapkan bahwa layanan perpustakaan harus selalu berimprovisasi bergerak out off the book sesuai keperluan instansi maupun masyarakat karena mendekatkan buku kepada masyarakat adalah amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Sementara itu di peroleh dari berbagai sumber,  Staf Ahli Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Bidang Pengembangan Wilayah Condrad Hendrarto mengatakan dana desa bisa digunakan untuk pembangunan perpustakaan di desa mulai 2020.

“Jika sebelumnya, hanya bisa digunakan untuk pengadaan bahan bacaan, tapi mulai tahun ini bisa digunakan untuk pembangunan perpustakaan,” ujar Conrad pada acara Rakornas Perpusnas di Jakarta, Selasa.

Sebelumnya, perpustakaan desa ditempatkan di rumah kepala desa ataupun rumah warga. Berapa persen penggunaan dana untuk perpustakaan, lanjut Conrad, diserahkan kepada musyawarah desa.

“Sejak adanya dana desa mulai 2015, sudah banyak kegiatan yang berkaitan dengan literasi yang diadakan,” sebut dia.

Tercatat jumlah perpustakaan yang ada di desa sebanyak 1.201 perpustakaan dan 12.662 taman bacaan masyarakat. Jumlah tersebut, kecil jika dibandingkan jumlah desa yang berjumlah 74.953 desa.

Meski demikian, Conrad mengemukakan tren perpustakaan di desa semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ke depan, dengan adanya internet di desa, akses masyarakat terhadap pengetahuan semakin terjangkau.

Sementara itu Bunda Nunung menuturkan bahwa untuk meningkatkan minat baca di Kalimantan Selatan, maka diperlukan strategi peningkatan kualitas pelayanan publik di perpustakaan.

“Dispersip Kalsel melakukan berbagai inovasi, diantaranya kami membina hubungan baik dengan Penulis, Budayawan, Wartawan, Kelompok Kerja Kepala Sekolah, MKKS, Tim Penggerak PKK, sekolah, dan stakeholder lainnya. Kami juga membuat MoU dengan mereka,” ujarnya

“Kami juga berusaha mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kami ada aplikasi E-Kalsel yang bisa di download di Playstore. Ada ratusan buku yang bisa dibaca disitu.”

“Ada 8 mobil perpustakaan keliling. Untuk menjangkau daerah pedalaman, kami punya 9 kendaraan trail yang masuk ke pelosok-pelosok kabupaten,” tuturnya.

“Selain itu, kami aktif mendatangkan pemicara dan penulis-penulis Best Seller diantaranya Dewi Dee, Habiburrahman El Shirazy, Pidi Baiq, Prie GS. Juga ada Duta Baca, Najwa Shihab,” tambahnya.

Bunda Nunung mengatakan yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan budaya baca. Bukan sekedar membangun perpustakaan.

Literasi anak-anak kita masih dibawah dibandingkan negara lain. Untuk itu, selain menyediakan akses bacaan juga penting menumbuhkan budaya baca pada anak-anak,” tambah Bunda Nunung.

Bunda Nunung mengatakan keberadaan perpustakaan yang berada di pedesaan akan dapat mengembangkan inovasi di desa tersebut.

“Minat baca kita, ujarnya rendah, tapi sebenarnya bukan keinginan untuk membaca itu rendah, tapi ketersediaan buku di daerah tersebut masih sulit.

Oleh karena itu, ia mendorong agar setiap provinsi maupun kabupaten/kota memiliki dinas perpustakaan dan tidak digabungkan dengan dinas lainnya. Selain membangun perpustakaan di tingkat kabupaten/kota, perpustakaan juga harus ada di tingkat kecamatan dan perpustakaan mini di desa

“Sehingga akan mempermudah pelajar maupun masyarakat untuk bisa membaca ataupun meminjam buku, dengan harapan minat baca semakin meningkat,” tandasnya. (NandoL4)

  • Bagikan
Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gowa