Situs Berita Malaysia Didenda Rp1,7 Miliar Gara-Gara Komen Nyinyir Pembaca

situs-berita-malaysia-didenda-rp1,7-miliar-gara-gara-komen-nyinyir-pembaca

Situs berita independen Malaysiakini dinyatakan bersalah atas komentar pembaca yang dianggap menghina pengadilan. Akibatnya, mereka wajib membayar denda 500.000 Ringgit atau setara Rp1,7 miliar.

Steven Gan dan Premesh Chandran mendirikan Malaysiakini pada 1999. Mereka tergerak untuk menciptakan portal berita yang benar-benar terbebas dari kendali pemerintah, tak seperti media mainstream lainnya. Situsnya menawarkan jurnalisme berkualitas dan jujur seputar isu HAM dan demokrasi di Malaysia.

Permasalahannya dimulai pada Juni lalu, ketika Malaysiakini menerbitkan artikel tentang peradilan di negara itu. Lima pembaca meninggalkan komentar kritis mereka di bagian bawah situs. Polisi kemudian memberi tahu Malaysiakini akan menyelidiki serangkaian komentar tersebut.

Langkah yang diambil pihak berwenang menjadi contoh terbaru bagaimana kebebasan pers semakin memburuk di sana.

Pengadilan tinggi Putrajaya memutuskan Jumat, Malaysiakini “bertanggung jawab penuh” atas semua konten yang dipublikasikan di situs mereka. Namun, Gan selaku pemimpin redaksi lolos dari hukuman penjara karena tidak bersalah. Pengacara Gan dan Malaysiakini mengatakan, mereka kemungkinan tidak dapat mengajukan banding.

Amnesty International mengutuk putusan tersebut.

“Keputusan pengadilan federal akan berdampak buruk bagi kebebasan media dan berpendapat di Malaysia,” ujar Katrina Jorene Maliamauv, direktur eksekutif Amnesty International Malaysia.

“Pemerintah harus berhenti menyerang media independen seperti Malaysiakini, yang kerap menghadapi intimidasi dari pihak berwajib.”

Jurnalis mengenakan kaus bergambar wajah Steven Gan, pemimpin redaksi Malaysiakini. Foto: Mohd Rasfan / AFP

Jurnalis mengenakan kaus bergambar wajah Steven Gan, pemimpin redaksi Malaysiakini. Foto: Mohd Rasfan / AFP

Gan menyatakan kekecewaannya terhadap putusan di luar pengadilan tersebut. Dia menyebut pemberian denda besar itu sebagai upaya “menghukum” Malaysiakini dan membungkam mereka.

“Keputusannya dilayangkan terhadap lanskap media yang cepat berubah di negara ini, dan akan memiliki dampak mengerikan pada diskusi tentang masalah kepentingan publik,” tutur Gan.

BACA JUGA  Perkembangan Kasus Covid-19 di Kabupaten Garut s.d Hari ini Kamis, 24 Desember 2020 Pukul 15.00 WIB.

Print Friendly and PDF
share 0 Komentar

Tinggalkan Balasan