Bahaya Kebisingan yang Di Akibatkan Blasting/Peledakan Bagi Manusia.

bahaya-kebisingan-yang-di-akibatkan-blasting/peledakan-bagi-manusia.

blank

Liputan4.com LEBAK- Semakin meningkatnya pertumbuhan pembangunan infrastruktur Indonesia, sehingga kebutuhan semen terus meningkat
sehingga konsumsi batu kapur sebagai bahan baku utama dalam proses pembuatan semen akan meningkat pula. Seperti halnya Kegiatan
pembongkaran batu kapur yang dilaksanakan di Tambang quari PT LEN Milik PT Cemindo Gemilang di Desa Pamubulan Kecamatan Bayah kabupaten Lebak – Banten salah satunya pembongkaran batu menggunakan peledakan. Atau di sebut Blasting

Jarak aman peledakan yang diizinkan berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 1827/K/30/MEM/2018 adalah 500 meter terhadapmanusia dan/atau diperbolehkan berdasarkan kajian teknis. Blasting/Peledakan yang mengakibatkan Getaran yang terjadi di lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia. Termasuk Kesehatan

Dalam SK Menteri Lingkungan Hidup No 49 tahun 1996, ditetapkan tingkat baku getaran berdasar tingkat,
kenyamanan dan kesehatan dalam kategori menganggu, tidak nyaman dan menyakitkan. Baku tingkat getaran mekanik dan getaran kejut
adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dari usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan
gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan.
blank
Hasil penelitian Sucopindo 2002, Efek getaran terhadap tubuh tergantung besar kecilnya frekuensi yang mengenai tubuh :
• 3 – 9 Hz : Akan timbul resonansi pada
dada dan perut.
• 6 – 10 Hz : Dengan intensitas 0,6 gram, tekanan darah, denyut jantung, pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah. Pada intensitas 1,2 gram terlihat banyak perubahan sistem peredaran darah.
• 10 Hz : Leher, kepala, pinggul,
kesatuan otot dan tulang akan beresonansi.
• 13-15 Hz : Tenggorokan akan mengalami resonansi.
• < 20 Hz : Tonus otot akan meningkat, akibat Kontraksi statis ini otot menjadi lemah, rasa
tidak enak dan kurang ada perhatian.
Menurut Yustinus (2008, h.288)

BACA JUGA  Dua Orang Diperiksa Sebagai Dugaan TIPIKOR Proyek Pembangunan Jalur Transmisi 275 KV

Pengendalian atau pengontrolan getaran di tempat kerja dapat
dilakukan dengan mengisolasi sumber getaran, meredam getaran, mengurangi/menghilangkan gangguan mekanik yang menyebabkan getaran,
jarak sumber dengan pekerja, waktu pemaparan, alat pelindung diri (APD), dan lingkungan.
2. Pengaruh kebisingan terhadap manusia

Dalam buku pedomannya, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2009) menerangkan bahwa ada beberapa tingkat gangguan pendengaran
akibat bising, yaitu :
• Hilang pendengaran sementara, dan pulih kembali setelah pada waktu tertentu.
• Imun atau kebal terhadap bising, biasanya hal ini karena selalu mendengar kebisingan tertentu.
• Pendengaran berdengung.
• Kehilangan pendengaran permanen atau tetap dan tidak akan pulih kembali.

Bising akibat Ledakan tidak hanya berpengaruh terhadap sistem
pendengaran saja, tetapi akan mengganggu organ tubuh lainnya seperti adrenalin meningkat,
pembuluh darah mengkerut sehingga tekanan darah naik, hormon tiroid naik, jantung berdebar, reaksi otot, pupil melebar dan lain-lain.

Buku pedoman yang di buat oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2009), juga menerangkan dampak secara fisiologis kebisingan
mengganggu seseorang, antara lain kesulitan tidur, mudah lelah, kejengkelan, penurunan kinerja, kelainan jiwa dan lain-lain. Menurut
Yustinus (2008, h.284) pengaruh pemaparan kebisingan dari suatu aktifitas industri (seperti
aktifitas peledakan) yang melebihi nilai ambang batas akan mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada indera pendengaran yang dapat menyebabkan penurunan daya dengar baik bersifat sementara maupun permanen atau ketulian, secara fisiologis dapat mengganggu
kesehatan misalnya tekanan darah dan denyut jantung meningkat.

Dalam Keputusan Menteri, tidak dijelaskan secara detail berapa jarak yang aman bagi manusia dari lokasi peledakan. Hal ini
disebabkan oleh setiap tambang mempunyai metode peledakan yang berbeda-beda tergantung kondisi daerah yang akan diledakkan dan tentu saja hasil peledakan yang
dikehendaki. Akan tetapi bukan berarti setiap juru ledak boleh menentukan sendiri jarak aman tersebut.

BACA JUGA  Wagub Sulsel Belajar Menenun dan Promosikan Potensi Wisata Rongkong di Luwu Utara

Keputusan mengenai keselamatan
khususnya jarak aman tersebut berada pada seorang Kepala Teknik Tambang yang ditunjuk oleh perusahaan setelah mendapat pengesahan dari Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. Di tambang-tambang terbuka di Indonesia, jarak aman terhadap manusia boleh dikatakan hampir
mempunyai kesamaan yaitu dalam kisaran 500 meter. Jarak ini diperoleh dari hasil Risk Assessment (pengujian terhadap resiko) yang
telah dilakukan di tambang-tambang tersebut.

Risk Assessment ini tidak saja berbicara secara teknik peledakan dan pelaksaannya, namun perlu juga dimasukkan contoh-contoh hasil perbandingan dari tambang-tambang yang ada baik di dalam ataupun luar negeri.(Hs/Citonk)


Print Friendly and PDF
share 0 Komentar

Tinggalkan Balasan